MEROKOK
????
Rasakan
Sendiri Akibatnya. .
Hampir semua orang di muka bumi
mempunyai pendapat yang sama tentang kebiasaan merokok, yakni merugikan
kesehatan! Namun, lambat laun pendapat tersebut makin terkikis dan seolah makin
kehilangan ‘greget’nya atas berbagai efek negative yang diberikannya. Kebiasaan
menghisap rokok seolah menjadi bagian dari hidup, seolah turut menjadi ‘vitamin’
disamping kebutuhan pokok akan makanan dan minuman. Walau sesungguhnya ‘vitamin’
yang terkandung dalam sebatang rokok itu adalah racun yang berbahaya bagi
tubuh.
Bila selama ini masyarakat
mengetahui efek rokok menyerang kesehatan organ pernapasan dan reproduksi,
ternyata rokok juga bisa mengantarkan Anda pada resiko osteoporosis alias
penyakit keropos tulang. Fachry Ambia Tandjung, Ketua Perhimpunan Osteoporosis Indonesia
(Perosi) Jawa Barat, mengatakan, perokok sangat rentan terkena osteoporosis
karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan
tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormone estrogen dalam tubuh
berkurang, sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi
proses pelapukan. “Rokok juga membuat penghisapnya bisa mengalami hipertensi,
penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. Kalau darah
sudah tersumbat, yap roses pembentukan tulang sulit terjadi. Jadi, langsung
tidak langsung nikotin jelas menyebabkan osteoporosis.” Ujarnya.
Selain itu, perokok dalam jumlah
kecil memang akan lebih kecil terkena daripada menghisap banyak akan lebih
mudah tersergap penyakit silent disease itu. Namun jangan pernah punya pikiran
osteoporosis tidak akan menimpa seseorang yang merokok sebatang sehari. “Itu
asumsi yang salah. Sama salahnya dengan asumsi merokok tidak apa-apa asal
diimbangi dengan olahraga yang cukup. Mau satu gram sekalipun, nikotin tetaplah
nikotin. Membahayakan kesehatan seseorang.” Ujarnya. Menurut dia, asumsi yang
salah di masyarakat juga ada pada mitos suplemen asupan kalsium tinggi yang
diklaim bisa mengatasi osteoporosis. Imbas gaya hidup serba instan dan terbujuk
bahasa iklan, paparnya, membuat masyarakat kini beranggapan osteoporosis pada
perokok bisa teratasi dengan meminum rutin tablet efferfescent atau susu yang
kaya kalsium. Padahal, suplemen tersebut tak ubahnya dengan aksesoris mobil
yang tanpanya mobil masih bisa berjalan. Dia menegaskan suplemen hanyalah obat
tambahan yang komplementatif dan tidak bisa dijadikan silusi efektif mengatasi
ancaman penyakit keropos tulang tersebut.
Lantas, bagaimana mengatasi
osteoporosis bagi perokok?
Fachry menjawab singkat : Berhenti
total! Tidak merokok sama sekali, menurut dia adalah asumsi paling benar dalam
melawan penyakit tersebut. Berhenti merokok, selain membuat estrogen dalam
tubuh tetap beraktivitas juga mengeliminasi resiko kehilangan sel pembentuk
tulang selama hidup yang mencakup 20% - 30% pada pria dan 40% - 50% pada
wanita. Sebagai orang yang pernah kecanduan merokok, dia sadar berhenti merokok
tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun, dia mengarisbawahi tentang
dua hal penting yang harus diingat perokok yang ingin berhenti, yaitu terus
mengingat efek negative rokok serta memperteguh niat hidup sehat sebagaimana
dianjurkan agama.
Selain berhenti merokok, dokter
Rumah Sakit Hasan Sadikin Bnadung, Dicky Mulyadi, menyarankan agar masyarakat
rajin bergerak, mengonsumsi makanan bergizi dalam takaran seimbang, rutin
berolahraga, serta membiasakan terkena sinar matahari pagi dan sore. Khusus
olahraga, bagi yang masih mampu, sangat dianjurkan melakukan olahraga jenis
contact sports seperti sepakbola, basket, voli, dan sebagainya. Bila fisik
dirasa tidak mampu lagi, maka lakukan olahraga berenang, jalan pagi, dan senam
ringan. Sementara untuk konsumsi makanan bergizi, dianjurkan memakan kalsium
yang terkandung dalam susu, buah-buahan, sayuran, telur, belut, dan ikan.
Sedihnya
Menjadi Perokok PASIF
Oleh kompas Cyber Media, benda
kecil berbahan utama tembakau ini menyenangkan bagi sebagian orang, tetapi
menyebalkan bagi sebagian lainnya. Benda yang disebut rokok itu bisa membuat
orang yang menghisapnya merasa tenang dan percaya diri – begitulah pengakuan
sebagian perokok – namun sebaliknya bagi sebagian yang terpaksa menghisap
asapnya meskipun bukan perokok. Kelompok terakhir itu disebut sebagai perokok
pasif. Artinya, mereka tidak merokok tetapi harus turut merasakan akibat buruk
dari rokok yang dibakar. Para perokok pasif ini bisa dikatakan tak punya
pilihan, selain turut “menelan” asap rokok yang dinikmati para perokok. Padahal,
menurut Tjandra Yoga Aditama, dokter spesialis paru yang juga Ketua III Lembaga
Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), asap rokok yang terpaksa dihisap perokok
pasif kandungan bahan kimianya lebih tinggi dibandingkan dengan asap rokok
utama. Hal ini disebabkan tembakau terbakar pada temperature lebih rendah
ketika rokok sedang dihisap. Ini membuat pembakaran menjadi kurang lengkap dan
mengeluarkan banyak bahan kimia. “asap rokok mengandung sekitar 4.000 bahan
kimia, 43 di antaranya jelas-jelas bersifat karsinogen. Pengaruh asap rokok
pada perokok pasif itu tiga kali lebih buruk daripada debu batu bara.” Kata Tjandra
Yoga Aditama seperti ditulisnya pada buletin Rokok & Masalahnya. WHO, badan
kesehatan PBB, katanya, bahkan memberkirakan hamper sekitar 700 juta anak atau
sekitar setengah dari seluruh anak di dunia ini terpaksa menghisap udara yang
terpolusi asap rokok. Ironisnya, hal itu justru twerjadi lebih banyak di dalam
rumah mereka sendiri.
Di Indonesia, perokok relative bebas
menghisap roko dimana saja. Kawasan bebas rokok di negeri ini masih amat minim,
itu pun sangat mungkin dilanggar karena sanksinya bisa dikatakan tidak ada.
Padahal kalau seseorang merokok, itu berarti dia hanya mnghisap asap rokoknya
sekitar 15 persen saja, sementara yang 85 persen lainnya dilepaskanya untuk
dihisap para perokok pasif. “Ada beberapa penyakit yang bisa timbul karena
mereka menjadi perokok pasif. Misalnya, infeksi paru dan telinga, gangguan
pertumbuhan paru, atau bahkan dapat menyebabkan kanker paru.” Ujar Tjandra yang
Direktur Medik dan Keperawtan Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta.
Sebagian perokok tak bisa
memahami –apalagi diharapkan untuk bertoleransi- pada ketidaknyamanan perokok
pasif yang terpaksa menghisap asap rokok. Perokok pasif harus mencium bau
bakaran tembakau sampai merasa sesak napas. Bahkan, pada sebagian perokok pasif
yang sensitive akan langsung terbatuk-batuk saat itu juga.
Menurut Tjandra Yoga Aditama,
penelitian yang pernah dilakukan di Amerika Serikat (AS) menunjukkan kematian
akibat asap rokok pada perokok pasif lebih tinggi dibandingkan dengan kematian
sebab polusi udara lainnya. Resiko terjadinya kanker paru di kalangan perokok
pasif yang tinggal serumah atau sekantor dengan perokok lebih tinggi daripada
mereka yang tinggal bersama non-perokok. “Kemungkinan terjadinya kanker paru
pada perempuan yang suaminya perokok sekitar 20 sampai 30 persen lebih tinggi
dibandingkan dengan mereka yang pasangannnya tidak merokok.” Dia menambahkan.
Di China bahkan disebutkan bahwa penyakit jantung koroner pada perempuan yang
suaminya perokok sekitar 24 persen lebih tinggi dibandingkan dengan yang
suaminya tidak merokok. Angka ini meningkat sampai 85 persen bila perempuan itu
juga menjadi perokok pasif di tempat kerjanya. Tjandra Yoga Aditama
menambahkan, sekitar 75 persen perokok yang mencoba berhenti ternyata gagal
mewujudkan keinginannya itu. “Mereka biasanya mampu berhenti merokok untuk beberapa
waktu, namun toh akibatnya kembali lagi menjadi perokok.” Cetusnya. Dalam bulletin
Rokok & Masalahnya disebutkan, perokok yang berhenti merokok selama dua
jam, maka nikotin mulai meninggalkan tubuhnya. Ketika dia berhenti merokok
selama enam jam, itu berarti menurunkan denyut nadi dan tekanan darah yang
berangsur menuju pada keadaan ekuilibrium. Ketika orang itu berhenti merokok
selama 12 jam, maka CO (karbon monoksida) mulai meninggalkan tubuhnya. “Bila
dia berhenti merokok dua hari berturut-turut, kemampuan untuk mengecap dan
menghirup akan membaik. Kalau berhenti meroko dua sampai 12 minggu, sirkulasi
darahnya membaik. Orang yang terus berhenti merokok tiga sampai Sembilan bulan,
batuk dan gangguan pernapasannya akan menghilang.” Kata Tjandra. Perokok yang
sudah lima tahun berhenti merokok, maka resiko terkene penyakit jantung koroner
akan turun 50 persen, dan 10 tahun tidak merokok kemungkinan itu menjadi sama
dengan orang yang tidak merokok. “Angka-angka itu hanya gambaran umum, karena
hal ini juga amat tergantung pada lama dan banyaknya rokok yang dihisap masing-masing
orang.” Lanjutnya. Tjandra Yoga Aditama menambahkan, kemungkinan menjadi
perokok pada anak-anak akan lebih tinggi pada orangtua yang satu atau keduanya
perokok. “Di Amerika, remaja perokok lima kali lebih banyak pada mereka yang
orang tuanya perokok dibandingkan dengan orang tua yang tidak merokok.” Rokok
& Masalahnya juga menyebutkan beberapa efek rokok terhadap tubuh yang
jarang dipublikasikan, seperti menurunkan system kekebalan tubuh hingga
mengakibatkan kerontokan rambut, gangguan katarak pada mata, kulit cepat
keriput, kehilangan pendengaran dini, menimbulkan kerusakan gigi, lebih mudah
terkena osteoporosis, mengurangi jumlah dan kelainan bentuk sperma, serta lebih
berkemungkinan terkena kanker.
Merokok tak hanya membuat
penikmatnya tidak sehat, tetapi juga merugikan keluarga dan kerabat sendiri.
Kalau sudah begini, masihkah rokok pantas untuk dipertahankan?
Penemuan
dua senyawa yang diyakini mampu mengobati manusia dari kecanduan rokok dan alcohol
Penemuan spektakuler di bidang
kimia yang satu ini terkait dengan peran kimia di bidang kesehatan. Para ilmuan
peneliti asal Klinik Ernest Gallo serta Pusat Penelitian di Universitas
California, San Francisco, dan Pfizer Inc, telah menemukan bahwa dua senyaea
baru mungkin diperkirakan cukup efektif untuk mengobati ketergantungan terhadap
alcohol dan nikotin pada saat yang bersamaan. “Data kami telah menunjukkan
bahwa dengan cara menargetkan subtype nAChR tertentu, dimungkinkan akan bisa
mengobati ketergantungan seseorang terhadap alcohol dan nikotin dengan satu
obat.” Itulah pernyataan resmi para peneliti tersebut. Sementara nAChR sendiri
merupakan protein yang ditemukan di dalam otak serta system saraf pusat lebih
luas yang berfungsi untuk memediasi efek zat-zat seperti nikotin. Dua senyawa
yang dimaksud tersebut adalah CP-601932 dan
PF-4575180.
Berikut ini adalah struktur
molekul kedua senyawa tersebut :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar