Minggu, 18 November 2012

Tips



MEROKOK ????
Rasakan Sendiri Akibatnya. .


Hampir semua orang di muka bumi mempunyai pendapat yang sama tentang kebiasaan merokok, yakni merugikan kesehatan! Namun, lambat laun pendapat tersebut makin terkikis dan seolah makin kehilangan ‘greget’nya atas berbagai efek negative yang diberikannya. Kebiasaan menghisap rokok seolah menjadi bagian dari hidup, seolah turut menjadi ‘vitamin’ disamping kebutuhan pokok akan makanan dan minuman. Walau sesungguhnya ‘vitamin’ yang terkandung dalam sebatang rokok itu adalah racun yang berbahaya bagi tubuh.

Bila selama ini masyarakat mengetahui efek rokok menyerang kesehatan organ pernapasan dan reproduksi, ternyata rokok juga bisa mengantarkan Anda pada resiko osteoporosis alias penyakit keropos tulang. Fachry Ambia Tandjung, Ketua Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi) Jawa Barat, mengatakan, perokok sangat rentan terkena osteoporosis karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormone estrogen dalam tubuh berkurang, sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan. “Rokok juga membuat penghisapnya bisa mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. Kalau darah sudah tersumbat, yap roses pembentukan tulang sulit terjadi. Jadi, langsung tidak langsung nikotin jelas menyebabkan osteoporosis.” Ujarnya.



Selain itu, perokok dalam jumlah kecil memang akan lebih kecil terkena daripada menghisap banyak akan lebih mudah tersergap penyakit silent disease itu. Namun jangan pernah punya pikiran osteoporosis tidak akan menimpa seseorang yang merokok sebatang sehari. “Itu asumsi yang salah. Sama salahnya dengan asumsi merokok tidak apa-apa asal diimbangi dengan olahraga yang cukup. Mau satu gram sekalipun, nikotin tetaplah nikotin. Membahayakan kesehatan seseorang.” Ujarnya. Menurut dia, asumsi yang salah di masyarakat juga ada pada mitos suplemen asupan kalsium tinggi yang diklaim bisa mengatasi osteoporosis. Imbas gaya hidup serba instan dan terbujuk bahasa iklan, paparnya, membuat masyarakat kini beranggapan osteoporosis pada perokok bisa teratasi dengan meminum rutin tablet efferfescent atau susu yang kaya kalsium. Padahal, suplemen tersebut tak ubahnya dengan aksesoris mobil yang tanpanya mobil masih bisa berjalan. Dia menegaskan suplemen hanyalah obat tambahan yang komplementatif dan tidak bisa dijadikan silusi efektif mengatasi ancaman penyakit keropos tulang tersebut.

Lantas, bagaimana mengatasi osteoporosis bagi perokok?

Fachry menjawab singkat : Berhenti total! Tidak merokok sama sekali, menurut dia adalah asumsi paling benar dalam melawan penyakit tersebut. Berhenti merokok, selain membuat estrogen dalam tubuh tetap beraktivitas juga mengeliminasi resiko kehilangan sel pembentuk tulang selama hidup yang mencakup 20% - 30% pada pria dan 40% - 50% pada wanita. Sebagai orang yang pernah kecanduan merokok, dia sadar berhenti merokok tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun, dia mengarisbawahi tentang dua hal penting yang harus diingat perokok yang ingin berhenti, yaitu terus mengingat efek negative rokok serta memperteguh niat hidup sehat sebagaimana dianjurkan agama.


Selain berhenti merokok, dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin Bnadung, Dicky Mulyadi, menyarankan agar masyarakat rajin bergerak, mengonsumsi makanan bergizi dalam takaran seimbang, rutin berolahraga, serta membiasakan terkena sinar matahari pagi dan sore. Khusus olahraga, bagi yang masih mampu, sangat dianjurkan melakukan olahraga jenis contact sports seperti sepakbola, basket, voli, dan sebagainya. Bila fisik dirasa tidak mampu lagi, maka lakukan olahraga berenang, jalan pagi, dan senam ringan. Sementara untuk konsumsi makanan bergizi, dianjurkan memakan kalsium yang terkandung dalam susu, buah-buahan, sayuran, telur, belut, dan ikan.

Sedihnya Menjadi Perokok PASIF

Oleh kompas Cyber Media, benda kecil berbahan utama tembakau ini menyenangkan bagi sebagian orang, tetapi menyebalkan bagi sebagian lainnya. Benda yang disebut rokok itu bisa membuat orang yang menghisapnya merasa tenang dan percaya diri – begitulah pengakuan sebagian perokok – namun sebaliknya bagi sebagian yang terpaksa menghisap asapnya meskipun bukan perokok. Kelompok terakhir itu disebut sebagai perokok pasif. Artinya, mereka tidak merokok tetapi harus turut merasakan akibat buruk dari rokok yang dibakar. Para perokok pasif ini bisa dikatakan tak punya pilihan, selain turut “menelan” asap rokok yang dinikmati para perokok. Padahal, menurut Tjandra Yoga Aditama, dokter spesialis paru yang juga Ketua III Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), asap rokok yang terpaksa dihisap perokok pasif kandungan bahan kimianya lebih tinggi dibandingkan dengan asap rokok utama. Hal ini disebabkan tembakau terbakar pada temperature lebih rendah ketika rokok sedang dihisap. Ini membuat pembakaran menjadi kurang lengkap dan mengeluarkan banyak bahan kimia. “asap rokok mengandung sekitar 4.000 bahan kimia, 43 di antaranya jelas-jelas bersifat karsinogen. Pengaruh asap rokok pada perokok pasif itu tiga kali lebih buruk daripada debu batu bara.” Kata Tjandra Yoga Aditama seperti ditulisnya pada buletin Rokok & Masalahnya. WHO, badan kesehatan PBB, katanya, bahkan memberkirakan hamper sekitar 700 juta anak atau sekitar setengah dari seluruh anak di dunia ini terpaksa menghisap udara yang terpolusi asap rokok. Ironisnya, hal itu justru twerjadi lebih banyak di dalam rumah mereka sendiri.

Di Indonesia, perokok relative bebas menghisap roko dimana saja. Kawasan bebas rokok di negeri ini masih amat minim, itu pun sangat mungkin dilanggar karena sanksinya bisa dikatakan tidak ada. Padahal kalau seseorang merokok, itu berarti dia hanya mnghisap asap rokoknya sekitar 15 persen saja, sementara yang 85 persen lainnya dilepaskanya untuk dihisap para perokok pasif. “Ada beberapa penyakit yang bisa timbul karena mereka menjadi perokok pasif. Misalnya, infeksi paru dan telinga, gangguan pertumbuhan paru, atau bahkan dapat menyebabkan kanker paru.” Ujar Tjandra yang Direktur Medik dan Keperawtan Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta.

Sebagian perokok tak bisa memahami –apalagi diharapkan untuk bertoleransi- pada ketidaknyamanan perokok pasif yang terpaksa menghisap asap rokok. Perokok pasif harus mencium bau bakaran tembakau sampai merasa sesak napas. Bahkan, pada sebagian perokok pasif yang sensitive akan langsung terbatuk-batuk saat itu juga.

Menurut Tjandra Yoga Aditama, penelitian yang pernah dilakukan di Amerika Serikat (AS) menunjukkan kematian akibat asap rokok pada perokok pasif lebih tinggi dibandingkan dengan kematian sebab polusi udara lainnya. Resiko terjadinya kanker paru di kalangan perokok pasif yang tinggal serumah atau sekantor dengan perokok lebih tinggi daripada mereka yang tinggal bersama non-perokok. “Kemungkinan terjadinya kanker paru pada perempuan yang suaminya perokok sekitar 20 sampai 30 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang pasangannnya tidak merokok.” Dia menambahkan. Di China bahkan disebutkan bahwa penyakit jantung koroner pada perempuan yang suaminya perokok sekitar 24 persen lebih tinggi dibandingkan dengan yang suaminya tidak merokok. Angka ini meningkat sampai 85 persen bila perempuan itu juga menjadi perokok pasif di tempat kerjanya. Tjandra Yoga Aditama menambahkan, sekitar 75 persen perokok yang mencoba berhenti ternyata gagal mewujudkan keinginannya itu. “Mereka biasanya mampu berhenti merokok untuk beberapa waktu, namun toh akibatnya kembali lagi menjadi perokok.” Cetusnya. Dalam bulletin Rokok & Masalahnya disebutkan, perokok yang berhenti merokok selama dua jam, maka nikotin mulai meninggalkan tubuhnya. Ketika dia berhenti merokok selama enam jam, itu berarti menurunkan denyut nadi dan tekanan darah yang berangsur menuju pada keadaan ekuilibrium. Ketika orang itu berhenti merokok selama 12 jam, maka CO (karbon monoksida) mulai meninggalkan tubuhnya. “Bila dia berhenti merokok dua hari berturut-turut, kemampuan untuk mengecap dan menghirup akan membaik. Kalau berhenti meroko dua sampai 12 minggu, sirkulasi darahnya membaik. Orang yang terus berhenti merokok tiga sampai Sembilan bulan, batuk dan gangguan pernapasannya akan menghilang.” Kata Tjandra. Perokok yang sudah lima tahun berhenti merokok, maka resiko terkene penyakit jantung koroner akan turun 50 persen, dan 10 tahun tidak merokok kemungkinan itu menjadi sama dengan orang yang tidak merokok. “Angka-angka itu hanya gambaran umum, karena hal ini juga amat tergantung pada lama dan banyaknya rokok yang dihisap masing-masing orang.” Lanjutnya. Tjandra Yoga Aditama menambahkan, kemungkinan menjadi perokok pada anak-anak akan lebih tinggi pada orangtua yang satu atau keduanya perokok. “Di Amerika, remaja perokok lima kali lebih banyak pada mereka yang orang tuanya perokok dibandingkan dengan orang tua yang tidak merokok.” Rokok & Masalahnya juga menyebutkan beberapa efek rokok terhadap tubuh yang jarang dipublikasikan, seperti menurunkan system kekebalan tubuh hingga mengakibatkan kerontokan rambut, gangguan katarak pada mata, kulit cepat keriput, kehilangan pendengaran dini, menimbulkan kerusakan gigi, lebih mudah terkena osteoporosis, mengurangi jumlah dan kelainan bentuk sperma, serta lebih berkemungkinan terkena kanker.

Merokok tak hanya membuat penikmatnya tidak sehat, tetapi juga merugikan keluarga dan kerabat sendiri. Kalau sudah begini, masihkah rokok pantas untuk dipertahankan?

Penemuan dua senyawa yang diyakini mampu mengobati manusia dari kecanduan rokok dan alcohol

Penemuan spektakuler di bidang kimia yang satu ini terkait dengan peran kimia di bidang kesehatan. Para ilmuan peneliti asal Klinik Ernest Gallo serta Pusat Penelitian di Universitas California, San Francisco, dan Pfizer Inc, telah menemukan bahwa dua senyaea baru mungkin diperkirakan cukup efektif untuk mengobati ketergantungan terhadap alcohol dan nikotin pada saat yang bersamaan. “Data kami telah menunjukkan bahwa dengan cara menargetkan subtype nAChR tertentu, dimungkinkan akan bisa mengobati ketergantungan seseorang terhadap alcohol dan nikotin dengan satu obat.” Itulah pernyataan resmi para peneliti tersebut. Sementara nAChR sendiri merupakan protein yang ditemukan di dalam otak serta system saraf pusat lebih luas yang berfungsi untuk memediasi efek zat-zat seperti nikotin. Dua senyawa yang dimaksud tersebut adalah CP-601932 dan PF-4575180.

Berikut ini adalah struktur molekul kedua senyawa tersebut :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar